KOTORAN BURUNG WALET SEBAGAI PUPUK TANAMAN TERUTAMA CABAI MERAH
Assalamualaikum wr. wb
Hallo semuanya…….. kali ini saya ingin memberitahu bahwa burung walet itu banyak sekali manfaatnya. Contohnya seperti kotoran burung tersebut dapat dijadikan sebagai pupuk tanaman dan sarang burung walet itu dapat dijadikan obat bagi sebagian masyarakat di berbagai negara. Untuk mengenal dan mempelajari lebih jauh mari kita bahas sama – sama dibawah ini.
Burung walet merupakan fauna yang sering ditemukan di Indonesia. Burung ini sering dikenal dengan manfaat (sarangnya) yang terbuat sendiri dari air liurnya, dimana air liur burung walet ini terkemuka dengan manfaatnya yang sangat banyak, antara lain sebagai obat batuk kering, mempertahankan kecantikan kulit, mengobati kerusakan pembuluh darah, sumber antioksidan dan masih banyak lagi. Meski begitu di bidang pertanian, sebagai pupuk alami yang sangat efektif untuk berbagai macam tanaman.
Gambar 1. Burung dan sarang walet
Sumber: https://www.google.co.id/url
Dalam kotoran walet sendiri terdapat banyak kandungan nutrisi yang sangat tinggi juga sangat baik bagi tanah, seperti nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, magnesium dan sulfur. Manfaat kotoran walet dalam segi pertanian juga sangat banyak. Karena 40% dari kotoran walet ini terbuat dari material organic murni jadi sangat efektif untuk memperbaiki serta memperkaya struktur dari tanah. Fungisida alami yang sangat berkhasiat bagi pertumbuhan tanaman karena mengandung berbagai bakteria dan mikrobiotik di dalamnya. Kotoran walet juga bisa lebih aman daripada pupuk kimia, dikarenakan sering digunakan untuk aktifator untuk pembuatan pupuk organik. Pada umumnya menggunakan pupuk kotoran walet akan membuat tanaman tumbuh dengan batang yang lebih kuat dan pembentukan daun baru menjadi maksimal. Kotoran burung wallet diproses menjadi bokashi terlebih dahulu untuk mendapatkan manfaatnya sebagai pupuk organik. Proses perombakan atau dekomposisi bahan organik menjadi zat organik berbentuk ion tersedia bagi tanaman umumnya berlangsung relatif lama sekitar 2 sampai 3 bulan, selanjutnya pemberian bahan organik yang belum terdekomposisi sempurna dapat berakibat negatif bagi tanaman karena dalam proses tersebut akan terjadi persaingan antara mikroorganisme dengan tanaman untuk mendapatkan nutrisi di dalam tanah. Mengatasi hal tersebut dalam pembuatan bokashi dapat digunakan Effective Mikroorganisme 4 (EM4) yang menyebabkan bahan organik akan terdekomposisi dalam waktu yang cepat yaitu sekitar 2 – 3 minggu. Pada proses ini tidak meninggalkan efek residu yang negative seperti bau dan panas (Wididana, 1993).
Cabai merupakan komoditas sayuran yang penting dan bernilai ekonomi tinggi di Indonesia, terbukti dari luas lahan pertanian cabai yang mencapai 20% dari total pertanaman sayuran di seluruh Indonesia. Di Kalimantan Timur produksi cabai merah segar dengan tangkai tahun 2014 sebesar 6.774,20 ton. Dibandingkan tahun 2013, terjadi kenaikan produksi sebesar 1.802,10 ton (36,24 persen). Kenaikan ini disebabkan oleh kenaikan produktivitas sebesar 1,49 ton per hektar (31,08 persen) dari 4,78 ton per hektar menjadi 6,27 ton per hektar, dan peningkatan luas panen sebesar 41,00 hektar (3,94 persen) dibandingkan tahun 2013. Manfaat dan kegunaan cabai tidak dapat digantikan oleh komoditas lainnya. cabai merah tidak hanya berfungsi sebagai bahan pangan, tapi juga dimanfaatkan sebagai bahan baku industri saat ini. Buah Cabai yang tidak tahan lama dan selalu di konsumsi segar membuatnya harus tersedia setiap saat, oleh karena itu, setiap saat permintaan dan kebutuhan cabai selalu tinggi. Pada saat musim hujan, produksi cabai cenderung menurun, harga cabai akan meroket mencapai ratusan ribu rupiah per kilogram. Kenaikan harga juga bisa diakibatkan oleh kenaikan harga sarana produksi, seperti pupuk, pestisida, tenaga kerja, bahan bakar, dan sewa lahan (Badan Pusat Statistik Kalimantan Timur, 2015).
Gambar 2. Cabe merah
Peternakan burung walet yang semakin berkembang di Kaltim menyebabkan adanya dampak negatif yaitu kotoran burung walet yang banyak dan tidak dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar sehingga dibuang begitu saja, contohnya adalah peternakan burung walet yang ada di daerah Lempake, Kecamatan Samarinda Utara. Kotoran burung walet mengandung C-Organik 50.46%, N/total 11.24%, dan C/N Rasio 4.49 dengan pH 7.97%, Fosfor 1.59%, Kalium 2.17%, Kalsium 0.30%, Magnesium 0.01%. Salah satu cara untuk meminimalisir limbah kotoran burung walet yaitu mengolah kotoran burung walet menjadi pupuk organik karena kandungan yang ada di dalam kotoran burung walet terdapat banyak bahan organik yang dapat menambah nutrisi tanaman (Talino, 2013).
Tidak hanya pemanfaatan Mikoriza Vesikular Arbuskula (MVA), pemanfaatan limbah kotoran walet juga dapat membantu penyimpanan air di dalam tanah , sebagai sumber unsur hara dan kotoran walet diduga mengandung bakteri pelarut phospat (BPF) . Fosfat guano merupakan hasil akumulasi sekresi burung walet atau kelelawar yang terlarut dan bereaksi dengan batu gamping akibat pengaruh air hujan dan air tanah. Menurut Lestari (2011), komposisi dari pupuk walet adalah Fosfat 14 %, Fosfat terlarut dalam asam sitrat 10 %, Nitrogen 1 – 2 %, Kalium 1 % dan Zat organik mencapai 24 %. Manfaat dari penggunaan guano antara lain dapat meningkatkan kesuburan tanah, meningkatkan jumlah dan aktifitas metabolik jasad mikro di dalam tanah, penyumbang unsur P ke dalam tanah, serta meningkatkan pertumbuhan akar dan tunas (Balipost, 2005). Aplikasi pupuk organik guano diharapkan mampu memperbaiki kondisi tanah baik fisik, kimia maupun biologis tanah. Pelepasan unsur hara yang berjalan lambat diharapkan dapat digunakan jagung secara efisien.Pemanfaatan pupuk tersebut tidak serta merta menghilangkan penggunaan pupuk P. Hal ini disebabkan peningkatan pertumbuhan tanaman karena bersimbiosis dengan mikoriza ditemukan lebih besar pada sumber P yang sukar larut daripada sumber P yang mudah larut (Bolan et al., 1987).
Gambar 3. Kotoran burung walet
Sumber : https://www.youtube.com/?gl=ID&tab
Kotoran burung walet juga mempunyai manfaat antara lain dapat meningkatkan kesuburan tanah, meningkatkan jumlah dan aktifitas metabolik jasad mikro di dalam tanah penyumbang unsur P ke dalam tanah, serta meningkatkan pertumbuhan akar dan tunas. Aplikasi pupuk organik Guano diharapkan mampu memperbaiki kondisi tanah baik fisik, kimia maupun biologis tanah. Pelepasan unsur hara yang berjalan lambat diharapkan dapat digunakan jagung secara efisien (Nur Hafizah Faisal, 2014).
Berdasarkan hasil analisis tanah, dapat diketahui bahwa pada tanah diberi bokashi (kompos) kotoran burung walet dengan jumlah dosis yang beragam menunjukkan nilai peningkatan pH tanah bila dibandingkan dengan nilai analisis tanah yang tidak diberi perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH tanah tertinggi diperoleh pada perlakuan P4, dimana perlakuan bokashi kotoran burung walet diberi sebanyak 200 g polybag-1 dengan nilai 5,31 dan pH terendah ditunjukkan pada pada perlakuan P0 (kontrol) yang tidak diberi bokashi kotoran burung walet dengan nilai 5,12. pH tanah ini juga sesuai dengan syarat pertumbuhan tanaman cabai merah, pH tanah yang optimal untuk pertumbuhan tanaman cabai antara 5 – 7 (Harpenas, 2010).
Terimakasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca blog saya :) :) :)
DAFTAR PUSTAKA
Balipost. 2005. Pupuk Organik Ramah Lingkungan. http://wwwco.id/BalipostCetak/2005/4/24/11.htm. Akses 26 september 2016.
BPS. 2014. Poduksi Cabai Besar 2013-2014. Badan Pusat Statistik. Kalimantan Timur. https://kaltim.bps.go.id/pressrelease/2015/83/produksi-cabai-besar--dan-cabai-rawit-tahun-2014-provinsi-kalimantan-timur.html.
Bolan N. S., Robson A. D. and Barrow N. J. 1987. Effects of vesicular-arbuscular mycorrhixa on the availability of iron phosphates to plants. Plant and Soil 99, 401-410.
Harpenas, A dan Dermawan, R. 2010. Budidaya Cabai Unggul. Penebar Swadaya. Jakarta.
Lestari. 2011. Pupuk majemuk organik guano walet. http://id528084201011.indonetwork.co.id/2261825/ pupuk-majemukorganik-guano-walet.htm. Diakses 30 November 2016.
Nur Hafizah Faisal. 2014.Pengaruh Pemberian Pupuk Organik Guano Dan Pupuk Hijau Tithonia (Tithonia diversifolia) Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Jagung Manis (Zea mays saccrata sturt). http://repository.unand.ac.id/19242/. Diakses Tanggal 6 Juli 2015
Talino, H. 2013. Pengaruh Pupuk Kotoran Burung Walet Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kacang Hijau pada Tanah Aluvial. Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian.
Wididana, G. N., M. S. dan T. Higa. 1993. Aplication of Effective Microorganisms (EM) and Bokashi on Natural Farming. Bull. Kyusei Nature Farming. Jakarta.



Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusTerimakasih ka ini sangat membantu dan menambah pengetahuan saya 👍
BalasHapusBermanfaat sekali kk untuk cocok tanam
BalasHapuswaaaa mantap de
BalasHapusTerimakasih kk untuk tambahan ilmunya
BalasHapusTerimakasih ka informasinya
BalasHapuswaww keren sekali!!
BalasHapusWah sangat mengispirasi sekali
BalasHapusTerimakasih informasinya sangat bermanfaat
BalasHapusgood lanjut kakkk
BalasHapusTerimakasih telah memperkenal walet dari kota bahaur dll...
BalasHapusBaru tau kotoran walet bisa dijadikan pupuk bermanfaat sekali artikelnya
BalasHapusHandak jua ihh beisi sarang walet
BalasHapus