BUDIDAYA CABAI
MERAH
Muhammad Luthfi
Aditiya
Sekolah Tinggi
Ilmu Kesehatan
Borneo Lestari
Program Studi S1
Farmasi
Email : aditmuhammad498@gmail.com
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Tanaman cabai (Capsicum annum L.) berasal dari dunia
tropika dan subtropika Benua Amerika, khususnya Colombia, Amerika Selatan, dan
terus menyebar ke Amerika lain. Bukti budidaya cabai pertama kali ditemukan dalam
tapak galian sejarah Peru dan sisaan biji yang telah berumur lebih dari 5000
tahun SM di dalam gua di Tehuacan, Meksiko. Penyebaran cabai ke seluruh dunia
termasuk negara – negara di Asia, seperti Indonesia dilakukan oleh pedagang
Spanyol dan Portugis. Cabai saat ini merupakan komoditas penting dalam
kehidupan masyarakat di Indonesia. Hampir semua rumah tangga mengkonsumsi cabai
setiap hari sebagai pelengkap dalam hidangan keluarga sehari – hari. Konsumsi
cabai rata – rata sebesar 4,6 kg kapita per tahun (Nurfalach, 2010).
Cabai merupakan salah satu komoditas pertanian yang
penting dan banyak dibudidayakan di Indonesia. Cabai memiliki aroma, rasa dan
warna yang spesifik, sehingga banyak digunakan oleh masyarakat sebagai rempah
dan bumbu masakan. Seiring dengan bertambahnya penduduk, kebutuhan cabai di
Indonesia pun semakin meningkat (Soelaiman dan Ernawati, 2013).
Tanaman cabai (Capsicum annum L.) merupakan tanaman
perdu yang sudah berabad – abad ditanam di Indonesia. Tanaman ini memiliki
ragam bentuk dan tipe pertumbuhan. Bentuk buahnya bervariasi, mulai dari bulat,
lonjong, hingga panjang. Keragamannya juga terdapat pada warna buah cabai. Ada
yang berwarna merah, ungu, hijau, kuning, dan putih. Tanaman cabai termasuk
keluargaa Solanaceae, genus Capsicum. Merupakan salah satu spesies dari 20 – 30
spesies dalam genus tersebut. Spesies ini paling luas dibudidayakan di Meksiko,
kemudian menyebar ke daerah Amerika Selatan dan Amerika Tengah hingga ke Eropa.
Kini spesies tersebut telah tersebar luas di daerah tropis dan subtropics
(Muhammad, dkk. 2016).
B.
Rumusan Masalah
1.
apa saja kandungan vitamin dalam buah cabai merah?
2.
Apa manfaat cabai merah dalam kehidupan sehari-hari?
3.
Bagaimana cara membudidayakan cabai merah yg baik dan benar?\
C.
Tujuan
Untuk mengetahui kandungan vitamin dan manfaat dalam
buah cabai merah serta cara membudidayakan cabai merah dengan baik dan benar.
PEMBAHASAN
Tanaman cabai merah (Capsicum annum L.) adalah
tumbuhan perdu yang berkayu, dan buahnya berasa pedas yang disebabkan oleh
kandungan capsaicin. Di Indonesia tanaman tersebut dibudidayakan sebagai
tanaman semusim pada lahan bekas sawah dan lahan kering atau tegalan. Namun
demikian, syarat – syarat tumbuh tanaman cabai merah ini harus dipenuhi agar
diperoleh pertumbuhan tanaman yang baik dan hasil buah yang tinggi. Tanaman
cabai merah mempunyai daya adaptasi yang cukup luas. Tanaman ini dapat
diusahakan di dataran rendah maupun dataran tinggi sampai ketinggian 1400 m di
atas permukaan laut, tetapi pertumbuhannya di dataran tinggi lebih lambat. Suhu
udara yang baik untuk pertumbuhan tanaman cabai merah adalah 25 – 27 oC
pada siang hari dan 18 – 20 oC pada malam hari. Cabai merah
merupakan salah satu komoditas hortikultura yang penting. Hal ini disebabkan
banyaknya manfaat yang dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan, baik yang
berhubungan dengan kegiatan rumah tangga maupun untuk keperluan lain seperti
untuk bahan ramuan obat tradisional, bahan makanan dan minuman serta industri.
Tidak hanya itu, secara umum tanaman cabai memiliki kandungan gizi dan vitamin
di antaranya, protein, lemak, karbohidrat, kalsium, vitamin A, B1 dan vitamin C
(Sumarni, 2005).
Cabai atau lombok termasuk dalam suku
terong-terongan (Solanaceae) dan merupakan tanaman yang mudah ditanam di
dataran rendah ataupun di dataran tinggi. Tanaman cabai banyak mengandung
vitamin A dan vitamin C serta mengandung minyak atsiri capsaicin, yang
menyebabkan rasa pedas dan memberikan kehangatan panas bila digunakan untuk
rempahrempah (bumbu dapur). Cabai dapat ditanam dengan mudah sehingga bisa
dipakai untuk kebutuhan sehari-hari tanpa harus membelinya di pasar (Harpenas,
2010).
Pengembangan cabai merah bertujuan meningkatkan
produktivitas tanaman cabai guna memenuhi permintaan konsumen yang terus
meningkat setiap tahun sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan
berkembangnya industri yang membutuhkan bahan baku cabai. Salah satu upaya
untuk meningkatkan produksi tanaman cabai dengan cara mengolah lahan secara
tepat agar kesuburan tanah tetap terjaga. Pemupukan merupakan salah satu
tindakan pemeliharaan tanaman yang utama untuk mendapatkan pertumbuhan yang optimal.
Cahaya matahari sangat diperlukan sejak pertumbuhan
bibit hingga tanaman berproduksi. Pada intensitas cahaya yang tinggi dalam
waktu yang cukup lama, masa pembungaan cabai merah terjadi lebih cepat dan
proses pematangan buah juga berlangsung lebih singkat. Tanah yang ideal untuk
penanaman cabai merah adalah tanah yang gembur, remah, mengandung cukup bahan
organik (sekurang kurangnya 1,5%), unsur hara dan air, serta bebas dari gulma.
Tingkat keasaman (pH) tanah yang sesuai adalah 6 - 7. Kelembaban tanah dalam
keadaan kapasitas lapang (lembab tetapi tidak becek) dan temperatur tanah
antara 24 - 30 oC sangat mendukung pertumbuhan tanaman cabai merah. Temperatur
tanah yang rendah akan menghambat pengambilan unsur hara oleh akar (Andoko,
2013).
Agar akar menjadi kuat dan pertumbuhan tanaman
menjadi seragam, benih perlu disemaikan. Unsur hara sangat diperlukan tanaman
terutama cabai merah. Setelah benih tumbuh karena cadangan makanan dalam biji
akan habis setelah biji mulai berkecambah. Untuk mendapatkan pertumbuhan tanam cabai
merah yang lebih baik perlu disuplai dengan unsur hara yang akan diproses dalam
tanaman, sehingga akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman secara
langsung memacu pada tingkat produksi tanaman. Adapun unsur hara yang
dibutuhkan oleh setiap tanaman berbeda sesuai dengan jenis tanaman. (Anggraini,
2015).
Selain faktor pemupukan, hal lain yang dapat
dilakukan untuk meningkatkan produksi caabai merah adalah dengan pengaturan
jarak tanam. Pengaturan jarak tanam untuk tanaman sangat diperlukan agar setiap
individu tanaman dapat memanfaatkan semua faktor lingkungan tumbuhnya dengan
maksimal, sehingga didapatkan tanaman yang tumbuh dengan subur dan seragam yang
akhirnya produksi dapat dicapai secara maksimal.
Jarak tanam mempengaruhi populasi tanaman, efisiensi
penggunaan cahaya, perkembangan hama penyakit dan kompetisi antara tanaman
dalam penggunaan air dan unsur hara. Jarak tanam yang tidak teratur akan
mengakibatkan terjadinya kompetisi baik terhadap cahaya matahari, air, maupun
unsur hara, jarak tanam yang rapat mengakibatkan proses penyerapan unsur hara
menjadi kurang efesien, karena kondisi perakaran didalam tanah yang saling
bertaut sehingga kompetisi antar tanaman dalam mendapatkan unsur hara menjadi
lebih besar (Zulkifli, 2013).
Tujuan
pengaturan jarak tanam pada dasarnya adalah memberikan kemungkinan tanaman
untuk tumbuh dengan baik tanpa mengalami persaingan dalam hal pengambilan air,
unsur hara dan cahaya matahari, serta memudahkan pemeliharaan tanaman.
Penggunaan jarak tanam yang kurang tepat dapat merangsang pertumbuhan gulma,
sehingga menurunkan hasil (Simangunsong, 2015).
PENUTUP
KESIMPULAN
Cabai atau lombok termasuk dalam suku
terong-terongan (Solanaceae) dan merupakan tanaman yang mudah ditanam di
dataran rendah ataupun di dataran tinggi. Tanaman cabai banyak mengandung
vitamin A dan vitamin C serta mengandung minyak atsiri capsaicin, yang
menyebabkan rasa pedas dan memberikan kehangatan panas bila digunakan untuk
rempahrempah (bumbu dapur). Cabai dapat ditanam dengan mudah sehingga bisa
dipakai untuk kebutuhan sehari-hari tanpa harus membelinya di pasar. Selain
faktor pemupukan, hal lain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi
caabai merah adalah dengan pengaturan jarak tanam. Jarak tanam mempengaruhi
populasi tanaman, efisiensi penggunaan cahaya, perkembangan hama penyakit dan
kompetisi antara tanaman dalam penggunaan air dan unsur hara.
Saran
Dalam membudidayakan
tanaman cabai merah, perlu mempertimbangkan waktu tanam dengan keadaan cuaca
setempat.
DAFTAR PUSTAKA
Andoko, Agus. 2013. Budidaya
Cabai Merah Secara Vertikultur Organik. Jakarta: Penebar Swadaya.
Anggraini, Dewi,. Hening
Widowati. 2015. Perbandingan Produksi Cabai Merah (Capsium annum L.) Antara Yang Menggunakan Media Tanam Sekam
Bakar Kompos engan Sekam Bakar Pupuk Kandang Sebagai Sumber Belajar Biologi
SMA. Jurnal Pendidikan Biologi. Vol.2 No.4, h.2.
Harpenas, A dan Dermawan,
R. 2010. Budidaya Cabai Unggul. Penebar Swadaya. Jakarta.
Muhammad Syukur, Rahmi dan
Rahmansyah Dermawan. 2016. Budidaya Panen Setiap Hari. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Nurfalach, Devi Rizqi.
2010. Budidaya Tanaman Cabai Merah ( Capsium annum L.) di UPTD Perbibitan
tanaman Hortikultura Desa Pakopen kecamatan Bandungan Kabupaten semarang. Tugas
Akhir Program Diploma III Agribisnis Universitas Sebelas Maret, Surakarta. h.5.
Simangunsong, T.R. 2015.
Respons Pertumbuhan dan Produksi Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Terhadap
Pemberian Kompos TKKS dan Karak Tanam di Dataran Rendah (Skripsi). Medan: Fakultas
Pertanian Universitas Sumatera Utara.
Sumarni, Nani,. Agus
Muharam. 2005. Budidaya Tanaman Cabai Merah. Bandung : Balai Penelitian Tanaman
Sayuran.
Soelaiman, V dan Ernawati
A. 2013. Pertumbuhan dan Perkembangan Cabai Keriting (Capsicum annuum L.)
secara In vitro pada beberapa Konsentrasi BAP dan IAA. Bul. Agrohorti 1 (1) :
62–66.
Zulkifli. 2013.
Pengaruh jarak tanam dan olah tanah terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung. http://pengaruh-jarak-tanam-dan-olahtanah.html. (dikunjungi 22
April 2020).
waahhh keren bangetttt
BalasHapusNice dit
BalasHapusSangat bermanfaat infonya, terima kasih :)
BalasHapusBermanfaat banget ini
BalasHapuskeren kak, makasih infonya.
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapus