Sabtu, 27 Juni 2020

BUDIDAYA CABAI MERAH

BUDIDAYA CABAI MERAH
Muhammad Luthfi Aditiya
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Borneo Lestari
Program Studi S1 Farmasi

PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Tanaman cabai (Capsicum annum L.) berasal dari dunia tropika dan subtropika Benua Amerika, khususnya Colombia, Amerika Selatan, dan terus menyebar ke Amerika lain. Bukti budidaya cabai pertama kali ditemukan dalam tapak galian sejarah Peru dan sisaan biji yang telah berumur lebih dari 5000 tahun SM di dalam gua di Tehuacan, Meksiko. Penyebaran cabai ke seluruh dunia termasuk negara – negara di Asia, seperti Indonesia dilakukan oleh pedagang Spanyol dan Portugis. Cabai saat ini merupakan komoditas penting dalam kehidupan masyarakat di Indonesia. Hampir semua rumah tangga mengkonsumsi cabai setiap hari sebagai pelengkap dalam hidangan keluarga sehari – hari. Konsumsi cabai rata – rata sebesar 4,6 kg kapita per tahun (Nurfalach, 2010).
Cabai merupakan salah satu komoditas pertanian yang penting dan banyak dibudidayakan di Indonesia. Cabai memiliki aroma, rasa dan warna yang spesifik, sehingga banyak digunakan oleh masyarakat sebagai rempah dan bumbu masakan. Seiring dengan bertambahnya penduduk, kebutuhan cabai di Indonesia pun semakin meningkat (Soelaiman dan Ernawati, 2013).
Tanaman cabai (Capsicum annum L.) merupakan tanaman perdu yang sudah berabad – abad ditanam di Indonesia. Tanaman ini memiliki ragam bentuk dan tipe pertumbuhan. Bentuk buahnya bervariasi, mulai dari bulat, lonjong, hingga panjang. Keragamannya juga terdapat pada warna buah cabai. Ada yang berwarna merah, ungu, hijau, kuning, dan putih. Tanaman cabai termasuk keluargaa Solanaceae, genus Capsicum. Merupakan salah satu spesies dari 20 – 30 spesies dalam genus tersebut. Spesies ini paling luas dibudidayakan di Meksiko, kemudian menyebar ke daerah Amerika Selatan dan Amerika Tengah hingga ke Eropa. Kini spesies tersebut telah tersebar luas di daerah tropis dan subtropics (Muhammad, dkk. 2016).

B.     Rumusan Masalah
1. apa saja kandungan vitamin dalam buah cabai merah?
2. Apa manfaat cabai merah dalam kehidupan sehari-hari?
3. Bagaimana cara membudidayakan cabai merah yg baik dan benar?\

C.    Tujuan
Untuk mengetahui kandungan vitamin dan manfaat dalam buah cabai merah serta cara membudidayakan cabai merah dengan baik dan benar.

            PEMBAHASAN
Tanaman cabai merah (Capsicum annum L.) adalah tumbuhan perdu yang berkayu, dan buahnya berasa pedas yang disebabkan oleh kandungan capsaicin. Di Indonesia tanaman tersebut dibudidayakan sebagai tanaman semusim pada lahan bekas sawah dan lahan kering atau tegalan. Namun demikian, syarat – syarat tumbuh tanaman cabai merah ini harus dipenuhi agar diperoleh pertumbuhan tanaman yang baik dan hasil buah yang tinggi. Tanaman cabai merah mempunyai daya adaptasi yang cukup luas. Tanaman ini dapat diusahakan di dataran rendah maupun dataran tinggi sampai ketinggian 1400 m di atas permukaan laut, tetapi pertumbuhannya di dataran tinggi lebih lambat. Suhu udara yang baik untuk pertumbuhan tanaman cabai merah adalah 25 – 27 oC pada siang hari dan 18 – 20 oC pada malam hari. Cabai merah merupakan salah satu komoditas hortikultura yang penting. Hal ini disebabkan banyaknya manfaat yang dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan, baik yang berhubungan dengan kegiatan rumah tangga maupun untuk keperluan lain seperti untuk bahan ramuan obat tradisional, bahan makanan dan minuman serta industri. Tidak hanya itu, secara umum tanaman cabai memiliki kandungan gizi dan vitamin di antaranya, protein, lemak, karbohidrat, kalsium, vitamin A, B1 dan vitamin C (Sumarni, 2005).
Cabai atau lombok termasuk dalam suku terong-terongan (Solanaceae) dan merupakan tanaman yang mudah ditanam di dataran rendah ataupun di dataran tinggi. Tanaman cabai banyak mengandung vitamin A dan vitamin C serta mengandung minyak atsiri capsaicin, yang menyebabkan rasa pedas dan memberikan kehangatan panas bila digunakan untuk rempahrempah (bumbu dapur). Cabai dapat ditanam dengan mudah sehingga bisa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari tanpa harus membelinya di pasar (Harpenas, 2010).
Pengembangan cabai merah bertujuan meningkatkan produktivitas tanaman cabai guna memenuhi permintaan konsumen yang terus meningkat setiap tahun sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan berkembangnya industri yang membutuhkan bahan baku cabai. Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi tanaman cabai dengan cara mengolah lahan secara tepat agar kesuburan tanah tetap terjaga. Pemupukan merupakan salah satu tindakan pemeliharaan tanaman yang utama untuk mendapatkan  pertumbuhan yang optimal.
Cahaya matahari sangat diperlukan sejak pertumbuhan bibit hingga tanaman berproduksi. Pada intensitas cahaya yang tinggi dalam waktu yang cukup lama, masa pembungaan cabai merah terjadi lebih cepat dan proses pematangan buah juga berlangsung lebih singkat. Tanah yang ideal untuk penanaman cabai merah adalah tanah yang gembur, remah, mengandung cukup bahan organik (sekurang kurangnya 1,5%), unsur hara dan air, serta bebas dari gulma. Tingkat keasaman (pH) tanah yang sesuai adalah 6 - 7. Kelembaban tanah dalam keadaan kapasitas lapang (lembab tetapi tidak becek) dan temperatur tanah antara 24 - 30 oC sangat mendukung pertumbuhan tanaman cabai merah. Temperatur tanah yang rendah akan menghambat pengambilan unsur hara oleh akar (Andoko, 2013).
Agar akar menjadi kuat dan pertumbuhan tanaman menjadi seragam, benih perlu disemaikan. Unsur hara sangat diperlukan tanaman terutama cabai merah. Setelah benih tumbuh karena cadangan makanan dalam biji akan habis setelah biji mulai berkecambah. Untuk mendapatkan pertumbuhan tanam cabai merah yang lebih baik perlu disuplai dengan unsur hara yang akan diproses dalam tanaman, sehingga akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman secara langsung memacu pada tingkat produksi tanaman. Adapun unsur hara yang dibutuhkan oleh setiap tanaman berbeda sesuai dengan jenis tanaman. (Anggraini, 2015).
Selain faktor pemupukan, hal lain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi caabai merah adalah dengan pengaturan jarak tanam. Pengaturan jarak tanam untuk tanaman sangat diperlukan agar setiap individu tanaman dapat memanfaatkan semua faktor lingkungan tumbuhnya dengan maksimal, sehingga didapatkan tanaman yang tumbuh dengan subur dan seragam yang akhirnya produksi dapat dicapai secara maksimal.
Jarak tanam mempengaruhi populasi tanaman, efisiensi penggunaan cahaya, perkembangan hama penyakit dan kompetisi antara tanaman dalam penggunaan air dan unsur hara. Jarak tanam yang tidak teratur akan mengakibatkan terjadinya kompetisi baik terhadap cahaya matahari, air, maupun unsur hara, jarak tanam yang rapat mengakibatkan proses penyerapan unsur hara menjadi kurang efesien, karena kondisi perakaran didalam tanah yang saling bertaut sehingga kompetisi antar tanaman dalam mendapatkan unsur hara menjadi lebih besar (Zulkifli, 2013).
Tujuan pengaturan jarak tanam pada dasarnya adalah memberikan kemungkinan tanaman untuk tumbuh dengan baik tanpa mengalami persaingan dalam hal pengambilan air, unsur hara dan cahaya matahari, serta memudahkan pemeliharaan tanaman. Penggunaan jarak tanam yang kurang tepat dapat merangsang pertumbuhan gulma, sehingga menurunkan hasil (Simangunsong, 2015).

PENUTUP

KESIMPULAN                                                                                                  
    Cabai atau lombok termasuk dalam suku terong-terongan (Solanaceae) dan merupakan tanaman yang mudah ditanam di dataran rendah ataupun di dataran tinggi. Tanaman cabai banyak mengandung vitamin A dan vitamin C serta mengandung minyak atsiri capsaicin, yang menyebabkan rasa pedas dan memberikan kehangatan panas bila digunakan untuk rempahrempah (bumbu dapur). Cabai dapat ditanam dengan mudah sehingga bisa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari tanpa harus membelinya di pasar. Selain faktor pemupukan, hal lain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi caabai merah adalah dengan pengaturan jarak tanam. Jarak tanam mempengaruhi populasi tanaman, efisiensi penggunaan cahaya, perkembangan hama penyakit dan kompetisi antara tanaman dalam penggunaan air dan unsur hara.

Saran
Dalam membudidayakan tanaman cabai merah, perlu mempertimbangkan waktu tanam dengan keadaan cuaca setempat.
DAFTAR PUSTAKA
Andoko, Agus. 2013. Budidaya Cabai Merah Secara Vertikultur Organik. Jakarta: Penebar Swadaya.
Anggraini, Dewi,. Hening Widowati. 2015. Perbandingan Produksi Cabai Merah (Capsium annum  L.) Antara Yang Menggunakan Media Tanam Sekam Bakar Kompos engan Sekam Bakar Pupuk Kandang Sebagai Sumber Belajar Biologi SMA. Jurnal Pendidikan Biologi. Vol.2 No.4, h.2.
Harpenas, A dan Dermawan, R. 2010. Budidaya Cabai Unggul. Penebar Swadaya. Jakarta.
Muhammad Syukur, Rahmi dan Rahmansyah Dermawan. 2016. Budidaya Panen Setiap Hari. Penebar Swadaya. Jakarta.
Nurfalach, Devi Rizqi. 2010. Budidaya Tanaman Cabai Merah ( Capsium annum L.) di UPTD Perbibitan tanaman Hortikultura Desa Pakopen kecamatan Bandungan Kabupaten semarang. Tugas Akhir Program Diploma III Agribisnis Universitas Sebelas Maret, Surakarta. h.5.
Simangunsong, T.R. 2015. Respons Pertumbuhan dan Produksi Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Terhadap Pemberian Kompos TKKS dan Karak Tanam di Dataran Rendah (Skripsi). Medan: Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.
Sumarni, Nani,. Agus Muharam. 2005. Budidaya Tanaman Cabai Merah. Bandung : Balai Penelitian Tanaman Sayuran.
Soelaiman, V dan Ernawati A. 2013. Pertumbuhan dan Perkembangan Cabai Keriting (Capsicum annuum L.) secara In vitro pada beberapa Konsentrasi BAP dan IAA. Bul. Agrohorti 1 (1) : 62–66.
Zulkifli. 2013. Pengaruh jarak tanam dan olah tanah terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman                          jagung.  http://pengaruh-jarak-tanam-dan-olahtanah.html. (dikunjungi 22 April  2020).

6 komentar:

BUDIDAYA CABAI MERAH

BUDIDAYA CABAI MERAH Muhammad Luthfi Aditiya Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Borneo Lestari Program Studi S1 Farmasi Email : aditmu...